Minggu, 02 Desember 2012

PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT



PENDAHULUAN

Penggunaan teknologi maju dalam pembangunan pertanian tanaman pangan yang dilaksanakan sejak Pelita I telah mengantar Indonesia mencapai swasembada beras. Telah menjadi tekad kita bersama untuk melestarikan swasembada tersebut. Diantaranya faktor-faktor yang mengancam kelestarian swasembada beras adalah jasad pengganggu terutama hama wereng coklat.

Hama wereng coklat telah lama dikenal sebagai hama pada tanaman padi di Indonesia, tetapi baru sejak tahun 1970 hama ini meningkat secara drastis menjadi hama utama yang mengancam produksi beras. Keadaan serangan hama wereng coklat yang sangat merisaukan merupakan konsekuensi penerapan teknologi maju yang kurang memperhatikan bioekolig hama dalam usaha mengejar sasaran.

Penanaman varietas unggul dalam areal luas mengakibatkan keanekaragaman lingkungan menjadi berkurang. Varietas unggul yang mempunyai anakan banyak, tumbuh subur dan rimbun, akan menciptakan keadaan iklim mikro yang sangat sesuai untuk perkembangan hama wereng coklat. Penanaman varietas unggul yang memiliki ketahanan gen tunggal terhadap wereng coklat mengakibatkan tekanan seleksi yang kuat terhadap hama tersebut, sehingga mendorong perkembangan biotip baru yang mampu menghancurkan varietas yang semula tahan.

Tersedianya air pengairan yang cukup mendorong petani untuk menanam padi secara terus menerus, menyebabkan tersedianya makanan dan tempat berkembang biak bagi wereng coklat secara berkesinambungan.

Penggunaan insektisida yang tidak tepat dari segi jenis, dosis, konsentrasi, waktu dan cara aplikasinya selain tidak efektif juga dapat menyebabkan resistensi, resurgensi, munculnya hama sekunder, dan akibat samping lainnya yang tidak diinginkan.

Pengalaman dalam menanggulangi hama wereng coklat sejak musim tanam 1974-1975 sampai saat ini, menunjukkan bahwa pengendalian hama wereng coklat tidak pernah berhasil bila hanya mengandalkan satu cara pengendalian saja. Oleh karena itu, maka sistem pengendalian hama terpadu, yaitu sistem pengendalian populasi hama dengan menerapkan berbagai cara pengendalian yang serasi sehingga tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan aman terhadap lingkungan. Pada prinsipnya pelaksanaan pengendalian ham terpadu adalah kewajiban petani sendiri dengan pembinaan dan bimbingan oleh aparat pemerintah.


BIOEKOLOGI WERENG COKLAT

Biologi
Wereng coklat, Nilaparvata lugens Stal, tergolong dalam ordo Homoptera famili Delphacidae. Seluruh tubuhnya berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, berbintik coklat gelap pada pertemuan sayap depannya. Panjang badan serangga jantan rata-rata 2-3 mm dan serangga betina 3-4 mm. Inang utama wereng coklat adalah tanaman padi. Dengan demikian perkembangan populasi wereng coklat tergantung pada adanya tanaman padi.

Telur wereng coklat berwarna putih, berbentuk seperti buah pisang, berukuran 1,30 mm x 0,33 mm dan biasanya diletakkan berkelompok di dalam jaringan pelepah daun tanaman padi. Namun telur wereng coklat kadang-kadang dapat ditemukan pada helai daun. Telur menetas setelah 7-10 hari.


Wereng coklat yang baru menetas sebelum menjadi dewasa melewati 5 tahap pertumbuhan nimfa (instar) yang dibedakan menurut ukuran tubuh dan bentuk bakal sayapnya. Serangga muda itu disebut nimfa.

Periode nimfa berkisar antara 12-15 hari. Hal penting yang perlu diperhatikan yaitu periode telur lebih dari separuh periode  nimfa. Oleh karena telur wereng coklat diletakkan dalam jaringan pelepah daun, maka telur tidak dipengaruhi oleh aplikasi insektisida.


Menurut ukuran sayapnya wereng coklat dewasa terdiri dari dua bentuk, yaitu bentuk bersayap panjang (makroptera) dan bentuk bersayap pendek (Brakhiptera).

Pemunculan kedua bentuk tersebut antara lain dipengaruhi oleh kepadatan populasi. Bentuk makroptera dapat terbang sehingga merupakan bagian populasi yang berfungsi untuk menemukan tempat hidup baru. Perpindahan wereng coklat jarak jauh dapat terjadi dengan bantuan angin.


Beberapa hari setelah kawin wereng coklat betina mulai bertelur, puluhan butir telur sehari. Selama hidupnya, seekor wereng coklat betina di Laboratorium dapat menghasilkan telur sampai 1000 butir. Tetapi karena adanya pengaruh lingkungan, kemampuan bertelur di lapangan hanya mencapai 100-600 butir.

Populasi wereng coklat yang berkembang di sawah dimulai oleh wereng coklat migran pada awal fase pembentukan anakan padi. Setelah menetap, wereng coklat berkembangbiak secara eksponential untuk satu atau dua generasi pada tanaman padi vase vegetatif, tergantung pada saat imigrasinya. Apabila imigrasi terjadi pada umur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka wereng coklat dapat berkembang biak sebanyak dua generasi. Puncak populasi nimfa generasi pertama (G1) dan kedua (G2) berturut-turut muncul pada umur 5-6 minggu setelah tanam dan 10-11 minggu setelah tanam. Apabila imigrasi terjadi setelah tanaman berumur 5-6 minggu setelah tanam, puncak generasi nimfa hanya dijumpai satu kali, yaitu pada umur 9-10 minggu setelah tanam. Pada keadaan lain kepadatan populasi tertinggi terjadi pada fase pembungaan tanaman padi yaitu pada umur 9-11 minggu setelah tanam. Apabila kepadatan populasi mencapai 300-500 ekor per rumpun, tanaman akan segera mati kering (hopperburn). 


Wereng coklat dewasa yang muncul pada saat tanaman berumur 7 minggu setelah tanam umumnya  berbentuk brakhiptera. Pada tanaman fase generatif wereng coklat yang muncul umumnya berbentuk makroptera yang kemudian pindah dari pertanaman tersebut. Akibatnya populasi wereng coklat pada tiap rumpun berkurang dengan cepat selama fase pemasakan tanaman padi .



Jika pada hamparan yang sama terdapat sawah yang baru ditanami maka akan terjadi migrasi wereng coklat makroptera berasal dari tanaman padi fase generatif tersebut.

Karena itu pengaturan pola tanam yang berupa menanam serempak pada satu hamparan yang cukup luas sangat bermanfaat, guna menghindarkan perpindahan wereng coklat dari pertanaman satu ke pertanaman lainnya.
  



Langkah pertama dalam peramalan wereng coklat adalah mengetahui kecenderungan populasi wereng coklat pada setiap lokasi dan musim tanam. Banyaknya wereng coklat migran pada wakt-waktu tertentu dicatat secara cermat dan teratur. Wereng coklat betina brakhiptera yang muncul pada generasi selanjutnya merupakan kunci utama peramalan wereng coklat.

Musuh Alami

Di daerah tropis, peranan musuh alami dalam mengendalikan populasi wereng coklat sangat besar. Diantaranya musuh alami tes adalah predator Lycosa sp yang setiap hari mampu memangsa 10-20 ekor wereng coklat dewasa atau 15-20 nimfa sehingga dianggap sebagai predator utama wereng coklat.

Mikrovelia dauglasi yang banyak terdapat pada permukaan air sawah, memangsa nimfa yang jatuh dari tanaman. Kepik Cyrtorhinus lividipennis merupakan predator utama yang memangsa telur dan nimfa. Selain itu terdapat beberapa parasit yaitu antara lain kelompok Mymaridae, Trichogrammatidae, Dryinidae, dan Elenchidae. Musuh-musuh alami wereng coklat yang umum ditemukan di Indonesia 




Kerusakan
Serangga dewasa dan nimfa biasanya menetap di bagian pangkal tanaman padi dan mengisap pelepah daun. Wereng coklat menusukkan stiletnya ke dalam ikata pembuluh vaskuler tanaman inang dan mengisap cairan tanaman dari jaringan floem. Nimfa instar ke empat dan kelima menghisap cairan tanaman lebih banyak daripada instar pertama, kedua dan ketiga. Wereng coklat betina mengisap cairan lebih banyak daripada yang jantan. Kerusakan khas akibat isapan wereng coklat adalah kering bagaikan terbakar yang dikenal dengan Hopperburn. Gejala awal yang timbul adalah menguningnya helaian daun yang paling tua dan makin banyaknya jamur jelaga karena banyaknya embun madu yang dikeluarkan wereng coklat.

Perubahan warna berlangsung terus meliputi semua bagian tanaman, dan akhirnya seluruh tanaman mengering berwarna coklat (Gambar 22).

Hopperburn biasanya terjadi pada fase setelah pembentukan malai. Kehilangan hasil akibar serangan wereng coklat berkisar antara 10-90 persen, tergantung pada tingkat kerusakan tanaman yang terserang.

Penyakit yang ditularkan oleh Wereng Coklat

Wereng coklat dapat menularkan dua macam penyakit virus padi, yaitu Penyakit Kerdil Rumput (Grassy Stunt) dan Kerdil Hampa (Ragged Stunt). Penyakit virus ini terutama penyakit kerdil rumput, biasanya terjadi secara epidemik setelah eksploitasi wereng coklat.

Tanaman padi yang terserang penyakit kerdil rumput pertumbuhannya sangat terhambat, sehingga menjadi kerdil dan mempunyai anakan banyak. Daunnya menjadi sempit, pendek, berwarna kuning pucak dan berbintik-bintik coklat tua (Gambar 23).

Serangan virus kerdil hampa menyababkan tanaman menjadi agak kerdil, daun hijau tua, terpilin, pendek, kaku, sobek-sobek, berpuru, anakan bercabang dan malainya tidak muncul serta hampa (Gambar 23).

Kedual penyakit virus diatas bersifat persisten. Penularan melalui telur (transovarial) atau keturunan wereng coklat tidak terjadi. Hubungan antara vektor (wereng coklat) dan virus dapat dilihat pada tabel 1.


INTERAKSI ANTARA WERENG COKLAT DAN VARIETAS

Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan untuk mengendalikan wereng coklat merupakan pendekatan praktis yang penting. Dewasa ini telah ditemukan empat macam gen tahan terhadap wereng coklat, yaitu Bph1 dan Bph3 sebagai gen dominan serta Bph2 dan Bph4 sebagai gen resesif. Bph1, Bph2 dan Bph4 telah digunakan untuk memperbaiki varietas-varietas padi dari IRRI dan Indonesia yang telah ditanam secara luas oleh petani.

Ketahanan varietas padi terhadap wereng coklat semula dianggap karena adanya penolakan rasa oleh serangga. Pada varietas tahan, wereng coklat dapat mengisap pembuluh tapis dengan stiletnya tetapi tidak terus menerus. Hal ini diduga karena adanya bahan kimia yang menghalangi pengisapan tersebut. Hambatan ini mengakibatkan angka kematian nimfa tinggi dan kesuburan wereng coklat menurun. Hanya mengandalkan pada varietas tahan dapat mempercepat perubahan biotipe wereng coklat. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan agar penggunaan varietas tahan dapat dipertahankan lebih lama, misalnya penelitian tentang perlindungan varietas rentan, pergiliran varietas tahan yang berbeda tetuanya dan lain-lainnya (Gambar 24)


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar